Juara 1 Lomba Cipta Puisi STAIHAS Cikarang

 

Surat Cinta Palsu Terlarang 

Muhamad Dwi Harfa

Di teras kenangan diantara gelap menjelang terang

Menjemput pagi di alang-alang

Di iringi tarian rumput jalang ilalang

Aku menunggu balasan suratku pulang…yang tak kunjung juga datang harapan

Apakah benar bunga pilu yang menjadi penghalang ?…

Menjadi kebenaran paparan suratan

Hingga sang waktu pun malu menjadi jawaban terang

Aku mengingatmu kawan…

Di masa kau bumbui aku untuk berperang

Melawan penjajah yang sedang mabuk kepayang

Merampas hasil alam rempah-rempah yang tak terbayang

Lalu kita berjuang dengan bamboo dan parang

Hingga sampailah pada kata-kata untuk senjata perang

Meraih kemerdekaan

Kawan aku senang hari itu telah datang…

Semua berdendang dengan lagu dan sumpah persatuan

Kawan…dan aku pun senang…hari itu telah datang…saatnya kau berpikir panjang

Menghiasi kemerdekaan yang masih sangatlah panjang diperjuangkan

Di bawah jendela beralas tikar memanjang…aku tidak berikrar panjang

Berbaring dipangkuan digenggamnya kedua tanganku sepertinya ajal akan datang

Kawan saatnya aku beranjak pulang…kirimkanlah surat untukku kawan !

Surat cinta untuk negerimu juga negeriku…kan kubalas surat itu dengan tenang

Bunga berguguran…lalu mekar kembali mengiringi masa berganti masa

Suratmu datang bergantian member kabar jawaban tenang

Kata perkata kau tulis panjang memberi makna harapan panjang

Hingga tak terasa terkadang suratmu datang dengan oretan gusar

Menandai anggapan tak ada arti lagi surat cinta yang member jawaban teanang

Tak ada keeriaan…tak ada cerita cita-cita kemerdekaan

Semua tersembunyi kelam…kemerdekaan tak usahlah dihiraukan

Karena begitulah caramu memandang sekarang…arti kemerdekaan

Pohon tak berbuah manis…

Rasanya menghasilkan himpitan sesaknya nafas habis

Kontradiksi antara keuntungan semata dengan cita-cita yang terang mulia

Isi suratmu tak lagi memberi kesenangan makna kata

Harapan kosong dan janji-janji yang memberi siksaan semata

Bumbui cita-cita rakyat dengan raun kepalsuan menyengsarakan rakyat

Lalu kau pun tak lagi berdebat mengelakan kata-kata yang dahsyat

Suratmu berisi syair-syair bejad melantunkan ambisi kasap

Sayang aku tak bisa lagi datang…surat kerinduankupun tak berbalas pulang

Berharap esok akan jelang kabar yang benar terang

Melegakan hati yang sekarang benar-benar bimbang

Kawan kau lahirkan kebencian yang ada hanya suratan cacian

Tak lagi berpikir panjang…hilang akal sehatmu kawan

Kelam…

Ingatkah kawan…

Janji-janji yang tertulis dipucuk surat cintamu yang kelam

Bersorak-sorak indahnya nafas kemerdekaan

Mengharu-haru prosesi meraih kemerdekaan

Semua sirna termakan hasrat terpendam

Tintamu bercampur garam

Menambah perih lukaku yang mendalam

Buah perjuangan kemerdekaan yang kudambakan

Sumpah mati setiamu tak ubahnya seperti buah busuk

Memberi stigma baru disetiap perkataan

Mengarang bait-bait yang menyentak gagasan

Memberi kesaksian palsu makna kata perkata

Mendustai jiwa dan raga…menghapus penafsiran makna sebenarnya

Tentangmu…tentang hidupmu…tentang patriotismemu…tentang nasionalismemu

Aku ragu kawan…

Sayang sumpah itu sepertinya kelam terpasung oleh kebiadaban zaman

Kata itu hanya slogan gugurkan kewajiban

Kata itu hanya hiasan penghias kewibawaan jabatan

Untuk hasut menghasut rakyat…menjadi pemanis buatan

Setiap bait kata perkata hanya layangan yang dimainkan melayang-layang

Baris-demi baris hanya susunan tangga nada yang berirama gencar

Selepas itu nikmatnya arti kata hilang melesat tersesat kemana

Itu hanyalah surtan yang tak ada hasrat tersirat

Aku telah ragu tentangmu kawan…

DI depan kau berteriak…”Selamatkan negeri ini”…”Bangun negeri ini”…

Namun di belakang kau berbisik…”Akan kunikmati kekayaan negeri ini”…

Kau peras cucuran keringat dilelahnya menutup rasa lapar

Kau hisap darah disetiap sayatan luka kesengsaraan

Kau gali gunung emas menjadi lembah tandus kepiluan

Bahkan kau jual cikal bakal negeri ini dengan recehan

Perih rasanya kawan…

Kawan aku ragu karena pengkhianatan

Tak mau lagi mengharap balasan surat cintamu terlayang untuk negeri ini

“Surat Cinta Palsu Terlarang”                       

Di teras kenangan diantara gelap menjelang terang

Menjemput pagi di alang-alang

Di iringi tarian rumput jalang ilalang

Aku menunggu balasan suratku pulang…yang tak kunjung juga datang harapan

Apakah benar bunga pilu yang menjadi penghalang ?…

Menjadi kebenaran paparan suratan

Hingga sang waktu pun malu menjadi jawaban terang

Aku mengingatmu kawan…

Di masa kau bumbui aku untuk berperang

Melawan penjajah yang sedang mabuk kepayang

Merampas hasil alam rempah-rempah yang tak terbayang

Lalu kita berjuang dengan bamboo dan parang

Hingga sampailah pada kata-kata untuk senjata perang

Meraih kemerdekaan

Kawan aku senang hari itu telah datang…

Semua berdendang dengan lagu dan sumpah persatuan

Kawan…dan aku pun senang…hari itu telah datang…saatnya kau berpikir panjang

Menghiasi kemerdekaan yang masih sangatlah panjang diperjuangkan

Di bawah jendela beralas tikar memanjang…aku tidak berikrar panjang

Berbaring dipangkuan digenggamnya kedua tanganku sepertinya ajal akan datang

Kawan saatnya aku beranjak pulang…kirimkanlah surat untukku kawan !

Surat cinta untuk negerimu juga negeriku…kan kubalas surat itu dengan tenang

Bunga berguguran…lalu mekar kembali mengiringi masa berganti masa

Suratmu datang bergantian member kabar jawaban tenang

Kata perkata kau tulis panjang memberi makna harapan panjang

Hingga tak terasa terkadang suratmu datang dengan oretan gusar

Menandai anggapan tak ada arti lagi surat cinta yang member jawaban teanang

Tak ada keeriaan…tak ada cerita cita-cita kemerdekaan

Semua tersembunyi kelam…kemerdekaan tak usahlah dihiraukan

Karena begitulah caramu memandang sekarang…arti kemerdekaan

Pohon tak berbuah manis…

Rasanya menghasilkan himpitan sesaknya nafas habis

Kontradiksi antara keuntungan semata dengan cita-cita yang terang mulia

Isi suratmu tak lagi memberi kesenangan makna kata

Harapan kosong dan janji-janji yang memberi siksaan semata

Bumbui cita-cita rakyat dengan raun kepalsuan menyengsarakan rakyat

Lalu kau pun tak lagi berdebat mengelakan kata-kata yang dahsyat

Suratmu berisi syair-syair bejad melantunkan ambisi kasap

Sayang aku tak bisa lagi datang…surat kerinduankupun tak berbalas pulang

Berharap esok akan jelang kabar yang benar terang

Melegakan hati yang sekarang benar-benar bimbang

Kawan kau lahirkan kebencian yang ada hanya suratan cacian

Tak lagi berpikir panjang…hilang akal sehatmu kawan

Kelam…

Ingatkah kawan…

Janji-janji yang tertulis dipucuk surat cintamu yang kelam

Bersorak-sorak indahnya nafas kemerdekaan

Mengharu-haru prosesi meraih kemerdekaan

Semua sirna termakan hasrat terpendam

Tintamu bercampur garam

Menambah perih lukaku yang mendalam

Buah perjuangan kemerdekaan yang kudambakan

Sumpah mati setiamu tak ubahnya seperti buah busuk

Memberi stigma baru disetiap perkataan

Mengarang bait-bait yang menyentak gagasan

Memberi kesaksian palsu makna kata perkata

Mendustai jiwa dan raga…menghapus penafsiran makna sebenarnya

Tentangmu…tentang hidupmu…tentang patriotismemu…tentang nasionalismemu

Aku ragu kawan…

Sayang sumpah itu sepertinya kelam terpasung oleh kebiadaban zaman

Kata itu hanya slogan gugurkan kewajiban

Kata itu hanya hiasan penghias kewibawaan jabatan

Untuk hasut menghasut rakyat…menjadi pemanis buatan

Setiap bait kata perkata hanya layangan yang dimainkan melayang-layang

Baris-demi baris hanya susunan tangga nada yang berirama gencar

Selepas itu nikmatnya arti kata hilang melesat tersesat kemana

Itu hanyalah surtan yang tak ada hasrat tersirat

Aku telah ragu tentangmu kawan…

DI depan kau berteriak…”Selamatkan negeri ini”…”Bangun negeri ini”…

Namun di belakang kau berbisik…”Akan kunikmati kekayaan negeri ini”…

Kau peras cucuran keringat dilelahnya menutup rasa lapar

Kau hisap darah disetiap sayatan luka kesengsaraan

Kau gali gunung emas menjadi lembah tandus kepiluan

Bahkan kau jual cikal bakal negeri ini dengan recehan

Perih rasanya kawan…

Kawan aku ragu karena pengkhianatan

Tak mau lagi mengharap balasan surat cintamu terlayang untuk negeri ini

Karena surat cintamu palsu dan terlarang

Muhamad Dwi Harfa

21 Oktober 2017