MENDIDIK MANUSIA MODEREN: LUAR DALAM

Oleh : Fajar Chaidir Q.A


Setiap zaman, tentu berbeda masalah dan kebutuhan hidup manusianya. Hal ini sudah tidak diragukan lagi dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam sejarah, menurut Hegel, ada tiga fenomena ruh yang berjalan dialektis. Pertama fenomena ruh subjektif. Ruh subjektif berarti manusianya, individunya. Zaman dahulu, ribuan tahun sebelum masehi, ruh subjektif ini masih menyelimuti kehidupan manusia, sehingga, satu manusia masih bisa melakukan hegemoni atas manusia lainnya, meskipun itu bersifat tidak manusiawi, dan cenderung tiranik. Slogan, raja adalah wakil tuhan, adalah yang mungkin bisa mewakili realitas dari kejadian terdahulu.

Lambat laun, manusia berpindah, dan mulai mampu membuat aturan, kebudayaan, secara bersama-sama, sebagai dialektika dari ke-aku-an yang sebelumnya terjadi. Yang kedua ini dinamakan ruh objektif oleh hegel. Ruh objektif tadi ialah kebudayaan manusia, konvensi di setiap daerah. Manusia mulai menyadari kebersamaan yang harus dijaga. Dengan kata lain, ruh objektif ini adalah kesadaran tentang ke-kita-an. Sehingga, fenomena ini akan berlanjut pada fenomena ruh mutlak (ruh dunia).

Zaman modern adalah puncaknya perluasan Ilmu pengetahuan dan teknologi, dimulai sekitar 1500an, di barat, dan di Islam sekitar 700an masehi. Hegel berpendapat semakin kemari (maju), maka zaman akan semakin rasional. Walaupun era modernisasi yang dibuat oleh modernisme telah melahirkan kontradiksi, yakni terciptanya senjata, alat mematikan yang bisa digunakan untuk kolonialisme, yang bertentangan dengan “pengakuan” para modernis barat, tentang kata “humanisme”, yang artinya memanusiakan manusia.

Menyadari akan kemajuan zaman, dan perubahan, di abad 21, di mana manusia membutuhkan perangkat-perangkat, atau, katakanlah keahlian yang penting untuk dimiliki setiap individu. Setidaknya secara garis besar dapat ditarik dua kebutuhan manusia untuk mampu menghadapi zaman moderen (yang sebetulnya di barat sudah masuk pada era posmoderen). Dua kebutuhan itu ialah “Basic Skill”. Basic skil berarti kemampuan (memiliki alat) manusia yang dipupuk dan ditempa dari dalam jiwanya, bukan luarnya. Kedua, kemampuan luarnya, artinya, kemampuan untuk mampu bersaing dengan dunia luar saat ini yang disesuaikan ilmu Pengetahuan dan Teknologi mutakhir. Bisa juga disebut dengan kemampuan kompetensi, kemampuan untuk mencari penghidupan dalam lingkungan sosial. kedua kemampuan tadi tentu berbeda memandang nilai-nilai. Kemampuan dasar, bisa juga dipandang sebagai kemampuan yang mengkonstruksi jalur dan paradigma memandang kehidupan, atau memandang dunia (world view). Nilai-nilai budaya, identitas, agama, sebagai asupan utama, untuk mengisi kemampuan dasar manusia zaman ini. Mengapa?

Berangkat dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang berakal, berbudi, berjiwa. Sehingga, keperluan untuk hidup bukan hanya untuk mencari makan seperti binatang, dan bergerak seperti robot. Dalam hal ini pendidikan manusia baiknya dimulai dari dalam diri, sebagai penancap kebenaran dan kebaikan yang dibutuhkan untuk modal awal sebelum mencari kompetensi Skill, yang hubungannya dengan persaingan sosial-ekonomi. Selanjutnya, kompetensi skill, ialah alat yang ampuh untuk bisa menyesuaikan diri dengan zaman ini. Kompetensi skill, berfungsi untuk hidup dan bersaing dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Ketidakmemilikian kompetensi manusia zaman ini berakibat pada terasingnya seseorang dalam kehidupan dari dua sisi tersebut (sosial-ekonomi). Pola mendidik ini berjalan hirarkis. Ibarat angka, Basic Skill adalah angka nomor 1 dan kompetensi skill dalam angka nomor 2. Mengapa harus hirarkis? Mari bertanya pada diri kita sendiri!

#REFLEKSI KADERISASI