Demokrasi Hijau: Sebotol Merica Garang

Assalamu’alaykum Wr.Wb.

Salam literasi..

Sebagai orang yang tinggal di daerah “penyangga Ibu Kota”, tentu sangat akrab dengan keadaan kota. Kencangnya arus modernisasi, khususnya industrialisasi sebagai salah satu model pembangunan ekonomi yang terjadi di Indonesia, yang justru efeknya menambah jurang pemisah antara “si kaya” dan “si mikin”. Orang-orang yang dirobotkan, globalisasi sebagai proses integrasi, membuat negara adikuasa semakin bebas menjajah pengaruhnya ke negara-negara berkembang. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), sehingga melahirkan senjata dan bom, yang menyebabkan banyak nyawa tak berdosa terbunuh. Alam terus dieksploitasi oleh manusia-manusia serakah yang menganggap dirinya berhak menikmati segalanya yang ada di bumi, untuk kenyang perut semata. Inilah corak kehidupan manusia sejak abad 15, yang antroposentris. Zaman yang segala-galanya menjadi mahal, tetapi semakin tak bernilai.

Dalam antologi sajak “Demokrasi Hijau”, merupakan keresahan saya atas kehidupan kota, atas pembangunan yang sedang kita alami, fenomena perang antar negara, alam yang semakin hari semakin murung, dan segala hal yang menjadi kekacauan di zaman modern. Keresahan dalam sajak ini juga merupakan pengingat untuk saya pribadi agar tetap mampu hidup di tengah kota yang begitu banyak masalahnya. Semoga kegelisahan ini menjadi Api bagi mereka yang terus memperjuangkan kualitas hidup manusia, memperjuangkan keadilan, kejujuran, kebenaran yang kini semakin masuk pada tahap reduksi. Biar mereka tetap tegar, menjadi manusia yang “melawan arus”.

 

Penasaran dengan buku ini?silahkan melakukan Pemesanan buku melalui : +6285774346949, atau +62 822-3081-6331.

Sekian Wassalamu’alaykum Wr.Wb.

 

#salamliterasi

#staihascikarang