ISLAM ITU RAHMAH

Dalam islam, kasih sayang merupakan prinsip hidup yang harus dimiliki umatnya. Hal tersrbut terlihat dari ucapan yang harus disampaikan ketika sesama muslim bertemu dengan ucapan yang tak asing di telinga siapapun, hatta non muslim sekalipun, yaitu assalamualaikum wr wb. Beberapa hadis nabipun sudah ungkapkan tentang kasih sayang dengan ungkapan: “Siapa yg tidak menyayangi, tidak akan disayangi”. Bahkan ditegaskan kasih sayang merupakan bukti keimanan:”Tidak disebut beriman seseorang di antara kalian sampai ia menyayangi saudaranya”.

Aku jadi teringat buku yang ditulis seseorang dengan judul “Islam itu Ramah bukan Marah”. Menurutku Islam bukan saja “ramah” namun Islam itu juga “Rahmah”, sebagaimana pesan qs alanbiya ayat 107 “tidaklah kami utus engkau Muhanmad melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam”.

Islam itu “rahmah” terlihat dari arti Islam secara etimologi. Secara etimologi Islam kata “Islam”. Kata ini secara bahasa berasal dari bahasa Arab yaitu kata  al-salam (-aslama-yaslimu-islaman) kata ini mempunyai cabang makna yang sangat banyak, namun semuanya menunjuk kepada maka al-salam yaitu kesejahteraan, kedamaian serta sifat tunduk patuh.( Ibnu Mandzur, Lisan al Arab, Juz VI, hlm. 344).

Maksud dari rahmah sebagaimana terdapat qs al anbiya ayat 107, adalah rasa kasih sayang Allah SWT, karunia dan nikmat yang diberikan kepada makhluknya di seluruh alam semesta. Maka maksud dari islam rahmatan lil’alamin adalah islam yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mewujudkan rasa kedamaian dan rasa tentram bagi manusia dan alam semesta. Rahmat yang diberikan berupa islam meliputi segala dimensi kehidupan manusia. Nabi Muhammad mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan yang sesuai dengan kaidah syariat serta mengajarkan toleransi kehidupan, mengingatkan manusia terhadap fitrahnya dan mengajarkan tatanan social dan cara hidup yang lengkap dan menciptakan kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan.

Berkaitan dengan kerahmatan Islam, sepatutnya fitrah manusia itulah yang diutamakan oleh umat Muslim dalam berbagi kehidupan dengan seluruh penduduk dunia, bukan superioritas atau keunggulan suatu kelompok di atas kelompok lain.

Agar Islam berfungsi sebagai rahmah, maka harus memahami Islam secara benar dengan memperhatikan sebagai berikut:

Pertama, pelajarilah Islam dari sumber aslinya yaitu Al-Qur’an yang memuat wahyu-wahyu Allah dan hadits. Memperlajari Islam dari dan dengan mempergunakan sumber tersebut akan memperkecil salah paham bahkan juga dapat menghindarinya.

Kedua, Islam tidak dipahami secara parsial tetapi intergral. Artinya Islam tidak dipelajari sepotong-sepotong tetapi secara keseluruhan dan dipadukan dalam satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Ketiga, Islam dipelajari dari hasil karya atau kepustakaan ditulis oleh mereka yang telah mengkaji dan memahami Islam secara baik dan benar seperti para ulama, cendekiawan muslim yang diakui otoritas kepakarannya.

Keempat, dihubungkan dengan berbagai persoalan yang dihadapi manusia dalam masyarakat dan dilihat relasi serta relevasinya dengan persoalan politik, ekonomi, social, budaya sepanjang sejarah manusia terutama sejarah Islam.

Kelima, memahami Islam dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang seperti ilmu-ilmu alamiah, social budaya dan sebagainya.

Keenam, tidak menyamakan islam dengan umat islam, terutama dengan keadaan umat islam pada suatu masa disuatu tempat. Tidak langsung member kesimpulan tentang Islam setelah melihat pemeluk-pemeluknya yaitu umat Islam.

Ketujuh, pelajarilah Islam dengan metode yang selaras dengan agama dan ajaran Islam, sebagaimana pesan Jalaludin al Rumi, agar kita dapat menegakkan ajaran Islam seperti menyuarakan azan; bisa indah, bisa buruk karena memekikkan telinga. Kita dapat menampilkan Islam yang lembut dan merdu, bisa pula yang keras dan menakutkan.

Kedelapan, mengedepankan Akhlak daripada paham.

Islam sebagai rahmah terlihat dari sikap seorang muslim yang mengikuti sikap seekor lebah, yaitu pertama: yang dimakan atau dikonsumsi lebah adalah sesuatu yang baik baik yaitu saripati bunga. Demikian pula seorang muslim yang dimakannya adalah yang halal dan thayyib. Sehingga apa yang dilakukan seorang muslim adalah yang sesuai aturan Allah yang pastinya tidak akan bertentangan dengan aturan manusia, sehingga membawa dampak yang baik yaitu kedamaian sebagaimana salah satu dari  arti Islam secara etimologi adalah damai yang dibuktikan dengan ungkapan setiap berjumpa sesama muslim yaitu Assalamu’alaikum wr wb.

Kedua, apa yang dikeluarkan dari tempat pembuangan  lebah bukanlah sesuatu yang menjijikan dan buruk, namun yang dikeluarkannya berupa madu yang amat bermanfaat untuk manusia. Maka seorang muslim  hendaklah apa yang dijeluarkan baik dari mulutnya atau perbuatannya selalu yang baik dan berdampak baik bagi orang lain. Hal ini telah dipandu oleh pesan Nabi: “sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia”.

Ketiga, lebah ketika ia hinggap di ranting pohon sekecil apapun, tidak pernah membuat patah ranting tersebut. Demikian seorang muslim , ketika ia berada di manapun tak akan merusak lingkungannnya baik dengan perkataan maupun sikapnya. Seorang muslim akan menjaga perkataan dan sikapnya sebaik mungkin, hingga tidak akan membuat persoalan dalam lingkungan masyarakatnya , sehingga tercipta kedamaian.