SIKAP BIJAK TERHADAP PERBEDAAN HARI RAYA IDUL ADHA

Hari raya idul adha tinggal beberapa hari lagi. Namun terkait waktu hari raya tersebut sudah ramai diperbincangkan. Ada yang menyatakan hari selasa karena mengikuti tempat lahirnya Islam dan adapula yang menyatakan hari rabu sebagaimana yang ditetapkan oleh penguasa melalui kementrian agama. Di samping itu, berbagai pendapat muncul disertai pula alasan dan dalilnya.

 

Bagaimana menyikapi kondisi seperti ini. Pertama harus dipahami bahwa dalam Islam terdapat hal hal yg bersifat zhany yaitu tidak jelas atau kurang jelas diatur dalam quran atau hadis. Dalam hal ini memberikan peluang penggunaan akal yang dikenal ijtihad. ¬†Karena tidak terdapat atau tidak jelas dalam al qur’an dan al hadis, maka memunculkan perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat dalam hal ini merupakan hal yang wajar.

 

Ketika ada yang berpendapat hari raya idul adha jatuh pada hari selasa, dengan alasan bahwa wukuf jatuh pada hari senin, maka tidak bersoal. Demikian ketika ada yang berpendapat bahwa idul adha jatuh pada hari rabu, karena mengikuti penguasa setempat, maka tidak pula bersoal. Maksudnya kedua hal tersebut memang merupakan pendapat ulama. Kemudian aja juga yang berpendapat, memang kedua boleh, namun ia mengungkapkan tentang pendapat yang lebih utama dari pendapat yang ada. Menurutku   terkait yang paling afdal pun tak lepas dari perbedaan.

 

Menurutku, ketika terdapat perbedaan pendapat yang disertai alasan berdasarkan sumber, maka sah sah saja untuk dijalankan salah satu dari kedua pendapat tersebut, tentu dengan mengetahui alasannya. Jadi jangan lagi ada persoalan dengan perbedaan pendapat tersebut, termasuk soal hari raya idul adha. Mari kita lakukan sesuatu yang berbeda, dengan menghormati perbedaan itu sendiri.

 

Kedua, status dari objek persoalan. Hari raya termasuk hari raya idul adha dan puasa Arafah merupakan sesuatu yang hukumnya sunah, bukan wajib. Untuk itu tidak perlu mempersoalkannya sesuatu yang tidak wajib. Terhadap orang yang tidak puasa Arafah dan tidak shalat id saja, tidak dipersoalkan, masa orang yang mau melaksanakan ibadah dipersoalkan.

 

SEJATINYA SIKAP TASAMUH /TOLERANSI MERUPAKAN SIKAP BIJAK DALAM PERBEDAAN

 

Salam Perindu Literasi