TAK CUKUP ALMAMATER, MAHASISAWA PERLU KARAKTER

TAK CUKUP ALMAMATER, MAHASISAWA PERLU KARAKTER

 

PMIIKABUPATENBEKASIORID6 JUNE 2018ARTIKELLEAVE A COMMENT

Oleh: Aldo

 

Satu dekade lalu, mahasiswa adalah jenjang pendidikan prestisius lantaran sebab masih sangat jarang masyarakat yang sangup menajajakinya. Tak jarang bilamana ada mahasiswa di suatu kampung menjadi suatu yang menggembirakan. Pertama, bisa bertemu raga, selanjutnya, ada harapan besar terhadap perubahan dimasyarakat.

 

Dengan ciri khas almamaternya, hadirnya mahasiwa bak pejuang yang sehabis pulang berperang. Begitu amat di elu-elukan dan dibanggakan keberadaannya.

 

Itu dahulu, kini zaman telah banyak berubah, pun begitu dengan tingkat prestisiusnya. Kini tak susah untuk menjadi mahasiswa asalkan ada kemauan, ditambah lagi tak sulit mencari kampus di tiap daerah, dahulu biasanya hanya ada di kota-kota besar yang tak dekat jaraknya. Keberadaan mahasiswa ataupun pasca mahasiswa terkesan biasa saja bahkan tak jarang pula justru menjadi beban moral karena tak kunjung juga memiliki profesi dgn honor tingkat bonavit. Itu tergambar jelas pada isi lagu “SARJANA MUDA” milik sang maestro. Entah apa sebabnya hingga demikian, apa lantaran bejubelnya kaum intelektual hingga menjadi terbiasa di masyarakat, atau karena memang tak memberi dampak perubahan yang prestisius seperti ekspektasi besar khalayak banyak atas keberadaannya. Pada intinya, hanya mengenakan almamater lantas berbangga diri saat membaur di masyarakat sudah tak relevan tanpa memberi dampak mashlahat di masyarakat meskipun ia hanya sebentar bergumul disitu.

 

Seperti pada umumnya, bila kenyataan tak sesuai harapan (keinginan) maka al hasil menjejak kekecewaan. Almamater bisa dikatakan simbol atau citra diri insan intelektual yang terpanggul tanggung jawab besar didalamnya. Mewujudkan harapan masyarakat sebenarnya tidaklah terlalu sulit, kita hanya perlu mulai untuk mewujudkannya, biarlah hasil menjadi perkara setelah berupaya. pada berupaya inilah perlu ditanamkannya karakter kuat yang mencirikan insan intelektual yang benar-benar intelektual. Agar tujuan dalam memberi mashlahat bisa ditunaikan, bukankan “katanya” ada akibat setelah ada reaksi (sebab)

 

Menyoal karakterisitik tentu saja bukan perkara, karena karakter bukan barang instan. Perlu kesungguhan teriring konsisten dalam menempanya. Namun bila ingin menjadi insan yang progres, karakter diri perlu di bentuk apapun itu bidangnya. Dengan karakter tersebutlah yang menjadi penuntun kita saat bermasyarakat, hingga keberadaan mahasiswa bukan lagi terpaku pada lembar dan silau warna almamaternya saja, tapi juga karakter personya yang mencerimkan kecakapan seorang mahasiswa yang intelektual.

 

Sudahkah diri kita berkarakter ?

Sumber: http://pmiikabupatenbekasi.or.id/2018/06/06/tak-cukup-almamater-mahasisawa-perlu-karakter/